YASMINE

Oleh : Yusriah Ulfah Winita

Yasmine

Bagaimana perasaan kita saat kita tahu orang yang menyuruh kita pergi adalah orang yang paling takut kehilangan kita? (Hujan Matahari:2014)

***

September 2015, Arab Saudi

“Yasmine? Gadis dingin itu?”

Katakan saja aku jahat. Dalam skenario hidup, memang aku pemeran antagonisnya. Selalu membuat orang lain berdecak kesal, mengumpat atas perbuatanku, semua. Hampir semua yang kulakukan bermakna ‘keburukan’ lazimnya. Biar saja. Aku toh tidak peduli. Lagipula untuk mencapai titik ini aku tidak pernah menyusahkan mereka. Sekalipun tidak butuh bantuan mereka. Bahkan Tuhan tak mengingkari itu.

Hari ini senja ke sekian aku bergabung dengan tim pendamping jamaah haji. Bersama tiga rekan lainnya, kami khusus mendampingi jamaah asal Turki, meskiu aku bukan orang Turki setidaknya penguasaan bahasaku memadai. Dan harus kuakui sebagai peran ‘antagonis’ bahwa kegiatan ini sungguh melelahkan. Membantu jamaah menerjemahkan dialog dengan penjual kain, negosiasi dengan sopir, bukanlah hal menyenangkan. Meski itu berarti kami turut dapat melaksanakan ibadah haji. Sungguh. Sejauh ini aku belum mengerti sebab kami ‘mahasiswa asing’ selalu menjadi penerjemah di musim haji.

“Ada yang lihat bu Rosita?”

Aku yang sedang mengantar tujuh orang jemaah bersama Neyla, menghentikan langkah. Kamar ini kelihatannya dihuni oleh jamaah asal Indonesia. Benar. Dari celah pintu yang terbuka, wajah mereka asli Indonesia. Ah! Apa pentingnya mereka mau jamaah Indonesia, Turki, Malaysia... tidak ada hubungannya denganku.

“Yasmine!”

Suara Neyla sedikit mengagetkanku. Ia bersama tujuh jamaah sudah berdiri sekitar lima meter dariku.

Aku mengangguk pelan, hendak menyusul. Tetapi, tiba-tiba suara alarm membuat kami saling pandang. Kaget. Apa yang terjadi? Entah mengapa aku langsung berlari menghampiri tujuh jamaah tadi dan mengarahkan mereka sesuai intruksi yang telah dipelajari mengenai jalan darurat. Baru saja mereka berdesakan dengan jamaah lain di tangga ketika kulihat Neyla berlari menerobos jamaah. Mau kemana dia?

“Ila aina hiya?”

Itu suara Yazem, teman setimku. Dia asli keturunan Arab. Aku mengangkat bahu sambil terus mengarahkan jamaah. Dan tanpa pernah kupikirkan, Yazem justru ikut berlari menyusul Neyla. Astaga! Aku mendesah dalam hati.

***

Neyla adalah satu dari sekian manusia bodoh yang pernah kutemui. Lihat saja, seminggu setelah tragedi kebakaran, ia masih terbaring tak berdaya di atas ranjang dengan selang infus di tangannya. Jelas tak ada alasan benar kenapa ia dengan bodohnya hendak ‘menyelamatkan’ jamaah yang terjebak api. Untungnya ada Yazem yang menyusul. Kalau tidak, mungkin perempuan itu sudah meregang nyawa. Lalu Yazem sendiri beruntung hanya mengalami luka ringan. Baiklah. Aku masih belum mengerti dengan orang seperti Neyla dan Yazem.

Untuk nyawa orang lain, nyawa sendiri dikorbankan.

Seminggu berikutnya, Neyla sudah diperbolehkan pulang. Jujur aku sedikit lega. Menghabiskan sepanjang hari menungguinya sangat membosankan. Dan ini semua karena ketololanku melaporkan kejadian tersebut pada petugas. Sehingga akulah yang dimintai keterangan sekaligus menjaga mereka, sementara Hasan mendampingi jamaah.

“Aku selalu sedih jika melihat ibu-ibu. Membayangkan seandainya aku bisa merasa kasih sayang seorang ibu,” tutur Neyla. Sekilas ia menghapus ujung mata dengan kerudungnya.

Jika kebanyakan orang luluh hatinya mendengar kisah tentang orang tua, terutama ibu, maka tidak bagiku. Sudah sejak lama sosok ibu tak pernah terlintas walau sedetik di pikiranku. Entah sejak kapan sosok itu lenyap dalam memoriku. Mungkin aku tahu, tapi aku menolak untuk tahu. Karena sosoknya telah terkubur. Jauh. Jauh di dalam dasar jiwaku.

“Aku harus menemui ibu itu, Yasmine.”

Aku mengangkat bahu sambil menguntit Neyla dari belakang. Sibuk dengan ketidakpedulianku. Dan tanpa pernah terpikir, hanya beberapa menit dari sekarang sebuah kejutan telah menantiku. ‘Kejutan’ yang paling tidak ingin aku hadapi. Karena sesungguhnya aku saat ini adalah karenanya.

***

September 2006, Indonesia

“Pergi sana! Jangan pernah tampakkan wajahmu di depanku walau sebatas batang hidung!”

Kak Riana setengah memelukku berjongkok sambil memasukkan helai pakaian kami yang berserakan di lantai ke dalam tas. Saat itu aku sudah berlinang air mata, tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Kenapa Bunda tiba-tiba marah besar dan menyuruh kami pergi?

Sumpah serapah dan makian yang keluar dari mulut Bunda tak lagi kudengar. Tangisku makin keras yang membuat para tetangga melongokkan kepala ke rumah kami. Mereka tentu mendengar teriakan Bunda dan tangisanku. Belum selesai kak Riana membereskan pakaian kami, samar-samar kulihat Bunda masuk dan membanting pintu. Bunda yang selama ini kupikir adalah orang paling menyayangiku, malaikat yang dikirim Tuhan, jusrtu mengusirku. Ada apa gerangan?

Aku. Saat itu berusia sepuluh tahun dan belum mengerti apa-apa. Hanya seorang gadis kecil yang berpikir hidupnya baik-baik saja, telah berubah. Berubah. Aku yang berusia sepuluh tahun telah berubah.

***

Oktober 2015, Arab Saudi

“Kau harus menemuinya, Yasmine.”

Aku tak bergeming dari buku tebal yang kubaca.

Neyla sepertinya sudah kebal dengan kekeraskepalaanku. “Ayolah, bagaimanapun dia ibumu, Yasmine. Sekarang dia sedang sakit dan ingin menemuimu.”

Mataku terpaku pada buku, tetepai pikiranku melayang. Kenapa juga Neyla bisa bertemu dengan wanita itu? Ah! Maksudku mereka tidak harus akrab sampai saling tahu masa lalu masing-masing. Ralat. Dari sekian banyak jamaah di sini, tidak seharusnya dia, bukan?

Dialah kejutan yang kumaksud. Bagaimanapun setelah pertemuan tak sengaja sebulan lalu, Neyla terus merecokiku dengan berbagai cerita tentangnya. Seperti biasa aku tidak peduli. Meski aku ingin berteriak kepada Tuhan. Kenapa harus dipertemukan kembali dengannya? Ia yang telah merubah sosokku menjadi seperti ini. menjadi pemeran antagonis, menjadi perempuan jahat tak perperasaan. Semua karenanya.

“Kakakmu, Riana sudah memaafkan kesalahannya di masa lalu. Kenapa kamu tidak? Lagipula dia punya alasan melakukan itu!” suara Neyla mulai meninggi. Tetapi aku sama sekali tidak mau terpengaruh. “Hatimu benar-benar sekeras batu, Yasmine.”

***

Januari 2016, Indonesia

Wanita itu. Wanita yang karenanya aku berubah menjadi seperti ini. Menjadi Yasmine. Wanita yang dulu dengan segenap jiwa menyayangiku, mendongeng tentang kisah nabi Yaqub yang ditinggal anaknya, Yusuf. Penghibur di kala sedu sedanku, selalu melindungiku. Bahkan aku telah berikrar, sosoknya tak kan lekang oleh waktu. Wanita itu, dialah yang kupanggil Bunda.

Hingga hari itu. Entah salah apa yang telah kuperbuat dengan kak Riana. Ia mengusir kami bagai binatang menjijikkan. Membiarkan kami luntang-lantung di jalanan, hingga hidup sedikit berbelas kasih memberi kak Riana pekerjaan sebagai TKW. Setidaknya kami tak lagi pusing memikirkan makan esok hari. Karena itu pula aku bisa mengenyam pendidikan.

Hari ini. Di atas pusaranya, aku berdiri. Matahari terasa menyengat hingga membakar kulitku. Tidak. Hujan mungkin saja mengguyur tubuhku. Akan tetapi, tidak peduli apapun itu, air mataku masih saja tak mau jatuh. Kenapa?

Kata orang, “kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah.”

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

- Berikan komentar yang mendidik dan membangun
- Kami harapkan saran dan kritikan yang baik untuk menambah kualitas artikel
- Berikan komentar yang sopan tidang mengandung unsur Porno dan SARA
- Jangan meninggalkan Link Aktif

Terimakasih atas Kepercayaannya